Sabtu, 21 Juni 2008

KELUH RINDU SEMEREN NING GUNUNG JATI

Andai ku tahu Tuhan terbonsai di lubuk hati
Suara receh berglotakan
Lirih di pojok-pojok kramat anak tanjakan
Terjepit bisikan jeritan bisikan teriakan
Suara-suara Tuhan berserakan
Obral dijajakan
Beralas daun jati
Tercecer awut-awutan
Batok-batok pun bergoyang
Tadahkan alunan belas keikhlasan
Jadi objek wasiat Kanjeng Sunan
Sampai kapan…?!
DENGAR…!
Jeritan itu masih ternganga
Butir-butir tasbeh berputar membisu
Receh itu terlalu setia berglotakan
Mengakar pecahkan kepulan kemenyan
Duh…!
Suramnya Kanjeng Sunanku…

Sabtu, 24 Mei 2008

Sintren : Kesenian Mistis Asal ‎Cirebon‎

KEHIDUPAN rakyat pesisiran selalu memiliki tradisi yang kuat dan mengakar. Pada hakikatnya tradisi tersebut bermula dari keyakinan rakyat setempat terhadap nilai-nilai luhur nenek moyang, atau bahkan bisa jadi bermula dari kebiasaan atau permainan rakyat biasa yang kemudian menjadi tradisi yang luhur.
Mungkin orang-orang yang dulu hidup di wilayah pesisiran tidak akan mengira kalau tradisi tersebut hingga kini menjadi mahluk langka bernama kebudayaan, yang banyak dicari orang untuk sekedar dijadikan obyek penelitian dan maksud maksud tertentu lainnya yang tentu saja akan beraneka ragam.

Salah satu tradisi lama rakyat pesisiran Pantai Utara (Pantura) Jawa Barat, tepatnya di Cirebon, adalah Sintren. Kesenian ini kini menjadi sebuah pertunjukan langka bahkan di daerah kelahiran Sintren sendiri. Sintren dalam perkembangannya kini, paling-paling hanya dapat dinikmati setiap tahun sekali pada upacara-upacara kelautan selain nadran, atau pada hajatan-hajatan orang gedean.

Rabu, 19 Maret 2008

Menyelami Kesenian Cirebon

Oleh: PRA. Arief Natadiningrat, SE, MM
LETAK geografis Cirebon yang berada di persimpangan jalan dari berbagai jurusan, menyebabkan kebudayaan di Kota Pesisir ini terkesan tindih-menindih. Salah satu yang amat membekas yakni pengaruh kebudayaan Hindu, baik yang tumbuh di Jawa (Hindu-Jawa) maupun di Sunda (Hindu-Sunda). Indikasi ini misalnya terlihat dari lambang Keraton berupa Harimau putih, yang menurut catatan sejarah merupakan peninggalan dari Kerajaan Hindu-Sunda.

Kalau kita cermati dinamika yang terjadi dalam kebudayaan (baca: kesenian) Cirebon, akan tampak perwujudan persembahan rakyat pada cara kehidupan keagamaan. Sejarah mencatat, sebelum kebudayaan Hindu masuk penduduk Pulau Jawa — termasuk juga Cirebon — memuja segala manifestasi alam yang mereka lihat sekitarnya seperti tumbuh-tumbuhan, batu karang dan laut, juga sungai, gunung, angin dan topan yang sekali-kali mengganggu kehidupan mereka.

Kamis, 13 Maret 2008

MEMASUKI GERBANG SITUS MAKAM SUNAN GUNUNG JATI

Ahmad
Kompleks pertamanan dan pemakaman keluarga keraton Cherbon yang dikenal dengan makam kramat Sunan Gunung Jati, ahli tarekat menyebutnya sebagai Pertemanan Giri Sapta Rengga, sedangkan masyarakat lokal mengenalnya sebagai pesambangan atau pakemitan. Pertemanan Giri Sapta Rengga ini memiliki sembilan area yang berundak-undak dengan ketinggian yang berbeda satu sama lainnya, dua area paling bawah dimasuki oleh umum, sedangkan tujuh area setelah pintu pasujudan atau pintu selatamangkep hanya bisa dimasuki oleh orang-orang tertentu atau keturunan raja-raja Cirebon saja. Pada undakan yang paling puncak adalah sebuah bangunan yang disebut gedong jinem, didalamnya terdapat makam sang Sunan (lihat denah) masing-masing area dibatasi oleh tembok keliling dengan satu pintu utama. Pintu-pintu yang menghubungkan arena satu dengan lainnya ini dkenal dengan lawang sanga. Kakek tamma rupaya lebih suka memakai istilah gapura daripada pintu atau lawang.
” Gapura berasal dari kata arab ghofuro yang berartin ampunan. Memasuki pertamanan ini hakikatnya engkau melewati ampunan tuhan dan ampunan tuhan itulah nikmat utama dari tujuan hidup manusia, anak muda”.