Ahmad
Kompleks pertamanan dan pemakaman keluarga keraton Cherbon yang dikenal dengan makam kramat Sunan Gunung Jati, ahli tarekat menyebutnya sebagai Pertemanan Giri Sapta Rengga, sedangkan masyarakat lokal mengenalnya sebagai pesambangan atau pakemitan. Pertemanan Giri Sapta Rengga ini memiliki sembilan area yang berundak-undak dengan ketinggian yang berbeda satu sama lainnya, dua area paling bawah dimasuki oleh umum, sedangkan tujuh area setelah pintu pasujudan atau pintu selatamangkep hanya bisa dimasuki oleh orang-orang tertentu atau keturunan raja-raja Cirebon saja. Pada undakan yang paling puncak adalah sebuah bangunan yang disebut gedong jinem, didalamnya terdapat makam sang Sunan (lihat denah) masing-masing area dibatasi oleh tembok keliling dengan satu pintu utama. Pintu-pintu yang menghubungkan arena satu dengan lainnya ini dkenal dengan lawang sanga. Kakek tamma rupaya lebih suka memakai istilah gapura daripada pintu atau lawang.
” Gapura berasal dari kata arab ghofuro yang berartin ampunan. Memasuki pertamanan ini hakikatnya engkau melewati ampunan tuhan dan ampunan tuhan itulah nikmat utama dari tujuan hidup manusia, anak muda”.
“ Ilahi, lastu lil firdausi ahla
Wa laa Aqwaa ’Alaa Naaril Jahimi
Fahablii Tawbatan Waghfir Dzunubii
Fa Innaka Ghoofiruzd Dzanbi Al’Adzimi ”
Syair gubahan abu nawas meluncur tenang dari mulut beliau, sayup, sambil lalu, namun penuh tekanan-tekanan. Rupanya ia tengah menyindir aku atau sekedar menyentil syaraf kesadaranku.
Karena itulah, dik kiri kanan gapura ini ditanam pohon-pohon symbol oleh kanjeng Sunan. Seperti gapura wetan diampit dengan pohon sawo kecik sedangkan gapura kulon dengan sawo kecik dan pohon “tanjung”. “apa artinya kek?” baru kali ini aku bertanya dengan penuh ingin tahu. Kakek tamma kembali tersenyum.
“tanpa banyak kata, kanjeng Sunan seolah berpesan kepada kita untuk selalu menanam kebaikan di sekeliling kita. Hendaklah engkau selalu berbuat baik, beramal sholeh, sarwo becik-sawo kecik dan memelihara tanjung, kemuliaan, kehormatan dan martabat kemanusiaan. Ini sejalan dengan wasiat beliau yang terkenal “ingsun titip tajug lan fakir miskin”.
Tajug berasal dari kata taajuka (arab). Taaj berarti mahkota, lambing kemulyaan, kehormatan dan harga diri atau martabat yang mesti dijunjung tinggi diatas kepala. “K” adalah dhomir mudzakar mukhotob yang berarti “MU”. TAAJUKA bila diwaqofkan TAAJUK. Lidah kita melafalkannya TAJUG.
Menyepuh dan memelihara harkat kemanusiaan dihadapan TUhan tempat di musholla, yaitu tempat sholat, di masjid dimana kita bersujud menurunkan mahkota kemanusiaan kita dihadapan raja segala raja. Allha yang memiliki mahkota atas segala mahkota. Sebab itulah lalu tajug menjadi nama lain dari mushola atau masjid.
Wanti-wanti kanjeng Sunan nitip agar kita menjaga mahkota atau harkat kemanusiaan ini dan yang paling dikhawatirkan itu semua adalah fuqoro dan masakin yang bertebaran di seantero Cirebon raya ini ! beliau menunduk dan berkata seolah untuk dirinya sendiri.
“Titip mereka, jaga mereka, Bantu mereka untuk tidak sampai jatuh terjerumus ke lembah kenistaan dan kehinaan, sebab kefaqiran dan kemiskinan mengakibatkan kekufuran, pertanda jatuhnya martabat dan harga diri mereka dihadapan tuhannya. Kefaqiran dan kemiskinan memaksa seseorang mengambil jalan yang salah, membunuh, menipu, menjilat, mencuri bahkan melacur menjual harga dan diri mereka”
ketika mendongak, tampak butiran bening menggenang dipelupuk matanya. “yang lebih dahsyat lagi adalah kemiskinan iman. Sebab miskin iman menyebabkan derajat kita jatuh hingga ke tingkat yang serendah-rendahnya (asfala saafiliina). Miskin harta saja masih mendingan, bahkan para sufiyah bersyukur karenanya. Sebab akan mempermudah hisabnya di akhirat nanti. Kaya namun miskin iman pun demikian, kekayaannya menyebabkan hidupnya tidak menjadi tenang. Akan tetapi yang lebih memprihatinkan adalah bila sudah miskin harta, miskin iman pula” na’udzu billah min dzalik.
Aku tercenung dalam perenungan tanpa bats. Seorang anak berteriak karena kepala tanpa sengaja terkena yang logam yang ditabur salah seorang peziarah tepat di jidatnya, sehingga menumbuhkan benjolan sebesar kelereng.
Tuhan pun kadang memberikan anugerah lewat sesuatu yang kita rasakan sebagai musibah, padahal inna ma’al ‘usri yusro’, aku hampir tertawa mendengar sindiran ini.
1 komentar:
Sunan Gunung Jati sebagai 'jenderal' yang memimpin sekian Ki Gede. Harus disikapi sebagai Pahlawan yang penting ditauladani dalam ilmu kepemimpinannya ( Ilmu bukan 'Ngelmu' ).
Dalam menghadapi kebutuhan pembenahan terutama tata organisasi wilayah demi meraih manfaat dan berkah optimal, nampaknya perlu sekali setiap gagasan pembenahan mendasai dengan moral kepemimpinan Sunan sebagai inspirasinya.
Sehingga efisiensi (optimalisai- bukan 'ngirit') dapat kita diraih dan kesejahteraan lahir batin Insya Allah masuk akal menjadi cita-cita nyata - bukan retorika apalagi sekedar sebagai ekspresi jiwa yang luka.
Fakta di sekitar kita banyak peninggalan yang memiliki makna dan merupakan data bahwa Cirebon Memang Punya Selera - ayo bareng-bareng diuri-uri geguyuban.
Dan kita kerjakan dengan 5 landasan:
1 Jujur (Syahadat)
2 Organize (Sholat)
3 Aware (Zakat)
4 Up to date (Puasa)
5 Net Working (Haji)
Insya Allah.
Bismillah.
Boca Angon.
Posting Komentar